Senin, 19 Januari 2015 17:22 WIB

Kompas
Jumlah program studi di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM - Pembukaan program studi di sejumlah perguruan tinggi
seperti tak terkendali. Perguruan tinggi leluasa membuka program studi
meskipun tidak disertai dengan fasilitas dan tenaga pengajar yang
memadai. Di sisi lain, kualitas pendidikan mahasiswa dikorbankan.
Di Universitas Brawijaya (UB), Malang, Jawa Timur, misalnya, terdapat
tambahan 19 program studi (prodi) sejak 2013. Universitas itu akan
mengusulkan lagi 20 prodi baru, yang saat ini masih berupa minat, pada
2015. ”Minat itu dibuat karena permintaan pasar serta perkembangan ilmu
pengetahuan,” ujar Ketua Pusat Jaminan Mutu UB Achmad Wicaksono, pekan
lalu.
Total, ada 139 prodi di universitas itu dengan 72.000 mahasiswa.
Sebanyak 28 prodi belum mengantongi akreditasi karena masih dalam proses
di Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).
Dengan banyaknya jumlah prodi di UB, jumlah mahasiswa baru berkisar
12.000-18.000 orang setiap tahun. Akibatnya, mahasiswa menumpuk hampir
di semua fakultas. Mahasiswa harus rela kuliah bergantian hingga malam
hari. Gedung Widyaloka, gedung pertemuan utama di UB, pun jadi gedung
perkuliahan.
Ika (20), mahasiswi Jurusan Hubungan Internasional, umpamanya,
mengatakan, empat semester pertama harus kuliah di gedung kuliah
bersama, bahkan tidak jarang ia harus kuliah malam. ”Tetapi, sekarang,
FISIP sudah memiliki gedung baru. Tidak perlu lagi kuliah di gedung
kuliah bersama,” ujarnya.
Kondisi itu dibenarkan pihak universitas. Namun, Achmad mengatakan,
sejak bertambahnya mahasiswa, UB gencar membangun gedung baru.
Persoalan lain ialah beratnya beban bagi dosen. Seorang dosen mengaku
bisa mengajar 7 kelas dalam seminggu atau sekitar 21 SKS seminggu.
”Saya tidak punya waktu mengembangkan diri dan kesulitan mengoreksi
tugas mahasiswa. Mutu mahasiswa yang dihasilkan bisa jadi tidak
maksimal,” ujar seorang dosen UB.

Posting Komentar